Sabtu, 08 Juni 2013

Teknologi canggih, memudarkan atau menunjang etika sosial masyarakat?

Sudah hampir tiga hari berturut-turut masyarakat kita ramai membicarakan kasus pemukulan yang dilakukan seorang pejabat daerah kepada seorang pramugari sebuah maskapai penerbangan swasta. Dalam beberapa jaringan sosial dan media massa, banyak pendapat dan tanggapan masyarakat atas peristiwa yang terjadi. Tidak sedikit masyarakat yang marah bahkan mencela tindakan pejabat tersebut. Ada yang mengatakan pejabat itu tidak berpendidikan, tidak sopan, bahkan tak bermoral.
Berbagai reaksi dari masyarakat yang secara spontan menimbulkan ide bagi saya untuk mengamati lebih detil permasalahan ini yang sesungguhnya sering terjadi di kalangan masyarakat kita.
 Jika seorang Pramugari menegur  penumpang yang memakai telepon selular, maka tindakan ini adalah kewajiban yang dia emban dalam menjalani tugas sebagai seorang Pekerja udara yang paham tentang keselamatan penerbangan. Sedangkan penumpang yang  sudah membayar tiket, merasa berhak untuk melakukan apa saja yang membuatnya nyaman termasuk menelpon di ruang tunggu dan bahkan di dalam pesawat. Menelpon untuk kepentingan pribadi yang menurutnya saat itu adalah hal yang penting dan biasa ia lakukan. Saat peristiwa peneguran itu berlangsung, ia yang merasa pejabat dan dilihat oleh penumpang lain maka ia merasa eksistensinya terusik. Dan baginya ini penghinaan.
 Mengapa hal sepele ini menjadi masalah?
 Mencermati perilaku masyarakat kita dewasa ini yang tumbuh dan berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan technologi, maka saya berpendapat banyak  orang yang mampu memiliki alat komunikasi modern tersebut terlena dengan fasilitas yang terdapat di dalamnya. Seperti pada alat komunikasi Blackberry, Android, Smartphone  memiliki fasilitas yang memudahkan penggunanya untuk berkomunikasi lebih cepat dan praktis. Fasilitas canggih inilah yang akhirnya membawa ritme kegiatan masyarakat di zaman sekarang menjadi terlihat sangat primitif. Jika anda berjalan- jalan di sebuah pusat makanan dalam sebuah mall atau plaza, anda akan mendapatkan banyak pemandangan lucu dan miris. Sebuah keluarga dalam satu meja, sembari menunggu makanan diantar maka sang ayah sibuk memegang iPhone, sang ibu asyik mengutak-ngatik Blackberry dan si anak terlihat seru membalas komentar temannya di facebook menggunakan ipad. Memang mereka satu keluarga dalam satu meja, namun kegiatan yang mereka lakukan saat itu adalah pemenuhan ego masing-masing yang difasilitasi oleh technologi canggih. Seharusnya waktu jalan-jalan bersama  digunakan sebaik mungkin setelah kesibukan mereka di tempat kerja dan di sekolah menyita waktu keluarga. Peristiwa ini bagi saya sangat miris dan menyedihkan. Karena waktu keluarga adalah mutiara yang sangat berharga.

Tidaklah mengherankan jika ketidak pedulian dalam sebuah komunitas keluarga kecil itu merebak di kalangan masyarakat luas. Banyak orang yang merasa saat ini pemenuhan keinginannya harus terlaksana secepat ia mengirimkan pesan chating. Mereka hanya berpikir tentang diri sendiri, 'me first'. Kalau ia menelpon karena ia ingin pesannya didengar dan dituruti, masalah dimana ia menelpon bukan hal yang penting. Yang penting saya mau menelpon. Kalau ia harus membalas pesan di BBM, kapan pun dan dimanapun ia akan melakukan itu dengan tuntutan harus segera dibalas juga, agar pesan berbalas tetap berjalan. Dan jika ia sedang membuat status di Facebook apalagi ketika harus bepergian dengan pesawat yang mengundang perhatian banyak orang, maka saat itu ia berharap ada komentar berbalas walaupun pintu pesawat sudah di tutup dan siap berangkat. Pejabat daerah yang saat itu merasa penting menelpon maka ia lebih berpikir dia, dirinya sendiri ketimbang keselamatan penerbangan, yang tidak hanya ada dia di dalamnya.
Keseluruhan dari tindakan itu adalah sikap tidak peduli. 

Kisah keluarga diatas adalah gambaran ketidak pedulian pada waktu keluarga yang sangat berharga.
Mereka yang bertelepon, chating, dan berkomunikasi di jejaring sosial tanpa melihat lingkungan sekitar juga gambaran ketidak pedulian dalam masyarakat.
Sehingga pengkristalan ketidak pedulian ini akhirnya terungkap pada peristiwa pemukulan yang dilakukan seorang pejabat kepada pramugari yang menegur nya menggunakan telepon genggam di pesawat. Betapa ironisnya kisah ini, saat sikap peduli pada keselamatan suatu penerbangan dilawan dan bahkan ditindak dengan pemukulan.
Kemajuan teknologi dewasa ini harusnya membawa manusia modern untuk berpikir canggih dan praktis. Jika kita harus melakukan tindakan keselamatan mengapa harus kita tunda? Apakah kepentingan pribadi dalam sebuah gadget kecil adalah pemenuhan diri yang utama ketimbang keselamatan kita sendiri? Sampai kapan kita akan membungkus pikiran kita dengan sikap primitif namun berlagak modern?
Etika sosial saat ini sudah mulai memudar. Masyarakat lebih memilih berteknologi secara primitif daripada bersosialisasi dalam kemajuan berpikir. Gaya hidup modern dijadikan benteng melawan etika sosial yang sudah ditanamkan sedari kecil.
Mari kita memiliki kesadaran bersama, jika kita harus maju dalam perkembangan zaman, maka kita juga harus bertumbuh dalam pikiran dan sikap dalam lingkungan sosial. Kemajuan zaman adalah hasil dari kemajuan berpikir manusia yang dimulai dari hal yang sederhana, dari lingkungan yang kecil pada tataran diri sendiri yang besar dan bermartabat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar